LEBAK, Baratv.id — Lonjakan kasus stunting di Kabupaten Lebak pada 2026 menjadi alarm serius bagi pemerintah daerah. Jumlah anak terdampak dilaporkan meningkat hingga 50 persen dibanding tahun sebelumnya, memicu perhatian berbagai pihak terhadap ancaman kualitas generasi masa depan di Banten.
Berdasarkan data yang dihimpun, angka stunting di Lebak pada 2026 mencapai sekitar 6.000 kasus. Jumlah tersebut naik signifikan dari tahun 2025 yang tercatat sekitar 4.000 kasus. Peningkatan ini menempatkan Lebak sebagai daerah dengan kasus stunting tertinggi kedua di Provinsi Banten setelah Kabupaten Pandeglang.
Ade Rossi, Anggota Komisi X DPR RI, menilai kondisi tersebut tidak bisa dianggap sebagai persoalan biasa. Ia menegaskan perlunya langkah konkret dan terukur untuk menekan angka stunting yang terus meningkat.
Kolaborasi dengan BRIN dan Intervensi 1.000 Hari Pertama Kehidupan
Dalam kegiatan peningkatan kapasitas penggunaan riset dan inovasi untuk masyarakat di Kecamatan Warunggunung, Senin (2/3/2026), Ade Rossi menyampaikan bahwa penanganan stunting harus dilakukan secara sistematis dan berbasis data.
Ia menggandeng Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk memberikan pendampingan langsung kepada kader Posyandu, PKK, serta kepala desa sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan di tingkat akar rumput.
Menurutnya, penanganan kasus stunting di Lebak harus dimulai sejak masa kehamilan, terutama pada periode 1.000 hari pertama kehidupan. Edukasi mengenai asupan gizi ibu hamil seperti asam folat, protein, karbohidrat, dan vitamin menjadi kunci utama pencegahan.
“Perhatian terhadap anak stunting bukan hanya setelah anak lahir, tetapi sejak ibu hamil harus mendapatkan edukasi dan asupan gizi yang cukup,” ujarnya.
Selain aspek fisik, ia juga menyoroti pentingnya kesehatan mental ibu dan anak. Istri dari Andika Hazrumy, mantan Wakil Gubernur Banten, tersebut menilai kurangnya dukungan keluarga dapat memicu gangguan psikologis seperti baby blues yang berdampak pada tumbuh kembang anak.
Ia juga menyinggung meningkatnya persoalan kesehatan mental di kalangan pelajar akibat perundungan dan tekanan ekonomi keluarga yang berpotensi menciptakan siklus masalah dalam pertumbuhan generasi muda.
Karena itu, ia mendorong Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) agar menjadikan kesehatan mental sebagai bagian integral kebijakan pendidikan, selaras dengan program Kementerian Kesehatan.
Anggaran Penanganan Stunting Harus Jadi Prioritas
Kepada Pemerintah Kabupaten Lebak dan Pemerintah Provinsi Banten, ia mengingatkan agar tidak setengah hati dalam mengalokasikan anggaran penanganan stunting meski di tengah tekanan inflasi daerah.
Menurutnya, program intervensi harus dilakukan konsisten dan berkelanjutan. Pemberian makanan bergizi, misalnya, idealnya dilaksanakan minimal tiga bulan berturut-turut dengan pemantauan harian terhadap asupan dan kebersihan anak.
“Ini bukan pengeluaran konsumtif, tetapi investasi jangka panjang bagi daerah. Kita berbicara tentang 5 hingga 15 tahun ke depan. Investasi terbaik adalah anak-anak yang sehat, cerdas, dan berkarakter,” tegasnya.
Lonjakan stunting di Lebak menjadi tantangan besar bagi seluruh pemangku kebijakan. Sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga riset, tenaga kesehatan, hingga keluarga dinilai menjadi kunci dalam menekan angka stunting dan memastikan masa depan generasi Banten tetap terjaga.



















