TANGERANG, Baratv.id — Puluhan warga Kecamatan Sepatan, Kabupaten Tangerang, menggelar aksi unjuk rasa di depan SMK Negeri 2 Kabupaten Tangerang. Aksi ini dipicu kekecewaan atas hasil Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ajaran 2025/2026 yang dinilai merugikan anak-anak lokal.

Massa aksi terdiri dari orang tua murid, tokoh masyarakat, ketua RT/RW, LSM, hingga awak media. Mereka menilai proses seleksi tidak transparan, serta sistem zonasi diduga hanya formalitas belaka.“Anak saya rumahnya cuma beberapa langkah dari sekolah, tapi tidak diterima. Justru yang dari luar Sepatan malah lolos. Ini jelas tidak masuk akal,” — Catur, orator aksi.

Zonasi Diduga Diakali, Anak Lokal Tergusur

Para pengunjuk rasa membawa spanduk tuntutan dan mendesak agar hasil seleksi dibuka ke publik. Mereka meminta Dinas Pendidikan Provinsi Banten turun langsung mengevaluasi proses SPMB di SMKN 2.

“SMKN 2 ini berdiri di atas tanah wilayah kami, tapi anak-anak kami malah tersingkir. Kami curiga ada permainan jalur belakang,” — Ibu Nurhasanah, orang tua murid.

Aksi ini sempat menyebabkan kepadatan lalu lintas di sekitar sekolah, namun tetap berlangsung damai di bawah pengamanan ketat dari pihak kepolisian.

Kepala Sekolah Tak Kunjung Keluar, Warga Geram

Yang memperkeruh suasana, Kepala Sekolah SMKN 2 tak kunjung menemui massa aksi. Sikap ini membuat warga merasa diabaikan dan semakin geram.

“Kalau tidak ada yang disembunyikan, seharusnya kepala sekolah berani keluar dan jelaskan. Ini malah ngumpet di dalam. Kami kecewa,” — Catur.

Ancaman Aksi Lanjutan Jika Tak Ditanggapi

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak SMKN 2 maupun Dinas Pendidikan Provinsi Banten. Warga menegaskan, jika tuntutan mereka tidak direspons, aksi susulan dengan jumlah massa yang lebih besar akan digelar.

“Kami siap turun lagi, dan kali ini lebih banyak. Jangan main-main dengan masa depan anak-anak kami!” — Catur.

(AS/Ftp)