SERANG, Baratv.id — Salah satu upaya pemerintah yang saat ini gencar dilakukan dalam mendukung peningkatan derajat kesehatan masyarakat adalah deteksi dini penyakit melalui skrining atau pemeriksaan kesehatan. Program pemeriksaan kesehatan ini ditujukan kepada masyarakat dari berbagai kelompok usia dan menjadi langkah penting untuk menemukan penyakit sejak dini agar dapat segera ditangani sebelum berkembang menjadi lebih parah.

Deteksi dini diharapkan dapat mencegah meningkatnya biaya pengobatan, mengurangi risiko komplikasi, serta mendukung peningkatan angka harapan hidup masyarakat. Hal tersebut juga berlaku pada kesehatan gigi dan mulut.

Gangguan kesehatan gigi dan mulut tidak boleh dianggap sepele. Dalam kondisi tertentu, masalah pada gigi dan mulut dapat menimbulkan keluhan atau gangguan pada bagian tubuh lainnya. Bahkan, sejumlah kasus infeksi gigi dan mulut yang berat dapat berkembang menjadi kondisi serius dan berisiko terhadap keselamatan pasien.

Oleh karena itu, skrining atau pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut menjadi bagian penting dalam upaya deteksi dini. Berdasarkan hasil skrining yang tercatat melalui dashboard ASIK Kementerian Kesehatan, gangguan kesehatan gigi pada masyarakat masih cukup tinggi, salah satunya berupa karies gigi atau gigi berlubang.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa edukasi mengenai pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut masih perlu terus ditingkatkan. Masyarakat perlu diberikan pemahaman bahwa menjaga kesehatan gigi dan mulut tidak hanya dilakukan ketika muncul keluhan, tetapi harus menjadi kebiasaan sejak usia dini.

Saat ini, pelayanan kesehatan gigi di fasilitas kesehatan masih banyak berfokus pada upaya kuratif atau pengobatan. Salah satu faktor yang memengaruhinya adalah keterbatasan tenaga kesehatan dibandingkan dengan jumlah masyarakat yang membutuhkan pelayanan. Gangguan kesehatan gigi dan mulut yang cukup banyak menyebabkan tenaga kesehatan harus memberikan pelayanan kepada pasien dalam jumlah besar.

Selain itu, pemeriksaan dan tindakan terhadap masalah gigi terkadang membutuhkan waktu yang cukup lama. Kondisi tersebut dapat menyebabkan jumlah kunjungan pasien harus disesuaikan dengan kapasitas pelayanan yang tersedia.

Padahal, upaya menjaga kesehatan gigi dan mulut perlu dilakukan secara berkelanjutan sejak bayi, balita, anak usia sekolah, remaja, dewasa hingga lanjut usia. Pembiasaan perilaku hidup sehat, khususnya dalam menjaga kebersihan gigi dan mulut, sebaiknya dimulai sejak usia dini agar menjadi kebiasaan hingga dewasa dan lanjut usia.

Pada bayi, balita, dan anak usia sekolah, misalnya, perlu diberikan edukasi mengenai cara menyikat gigi yang benar serta waktu yang tepat untuk menyikat gigi. Kebiasaan tersebut apabila dilakukan secara konsisten sejak dini diharapkan dapat membantu mencegah berbagai gangguan kesehatan gigi dan mulut di kemudian hari.

Tidak sedikit masyarakat yang merasa telah menyikat gigi setiap hari, tetapi ketika dilakukan pemeriksaan masih ditemukan gigi berlubang. Kondisi ini perlu menjadi perhatian. Menyikat gigi setiap hari memang penting, tetapi teknik menyikat gigi, waktu menyikat gigi, serta pola konsumsi makanan dan minuman juga dapat memengaruhi kesehatan gigi.

Konsumsi makanan atau minuman tertentu secara berlebihan, terutama yang mengandung gula, dapat meningkatkan risiko terjadinya karies apabila tidak diimbangi dengan kebersihan gigi dan mulut yang baik.

Ketika gigi sudah terlanjur berlubang, penanganannya dapat membutuhkan waktu yang lebih panjang. Dalam beberapa kondisi, perawatan gigi tidak cukup dilakukan hanya dalam satu kali kunjungan. Hal tersebut tentu dapat berdampak terhadap waktu yang harus disediakan masyarakat serta meningkatkan biaya perawatan dibandingkan dengan upaya pencegahan dan deteksi dini.

Gangguan kesehatan gigi dan mulut juga dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Rasa sakit atau ketidaknyamanan pada gigi dapat mengurangi produktivitas dan kualitas hidup. Selain itu, gangguan pada gigi dapat menyebabkan proses mengunyah makanan menjadi tidak optimal sehingga dalam kondisi tertentu dapat berpengaruh terhadap proses pencernaan.

Karena itu, peran masyarakat dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut menjadi sangat penting. Upaya promotif dan preventif perlu berjalan beriringan dengan pelayanan kuratif.

Dukungan tenaga pendidik di sekolah juga sangat diperlukan dalam memberikan edukasi dan membangun kebiasaan hidup sehat kepada anak-anak. Di sisi lain, dukungan pemerintah dalam pemenuhan sarana dan prasarana pelayanan kesehatan, peningkatan akses pemeriksaan gigi dan mulut, serta ketersediaan tenaga dokter gigi dan tenaga kesehatan lainnya juga menjadi faktor penting dalam meningkatkan kualitas pelayanan.

Dengan sinergi antara masyarakat, keluarga, sekolah, tenaga kesehatan, dan pemerintah, diharapkan upaya pencegahan serta deteksi dini gangguan kesehatan gigi dan mulut dapat semakin optimal.

Menjaga kesehatan gigi dan mulut bukan hanya tanggung jawab tenaga kesehatan, tetapi merupakan tanggung jawab bersama. Kebiasaan menjaga kesehatan gigi sejak dini, pemeriksaan secara berkala, serta kesadaran untuk segera mendapatkan penanganan ketika muncul keluhan merupakan langkah sederhana yang dapat memberikan manfaat besar bagi kesehatan dan kualitas hidup masyarakat.

Semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat dan menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut, sehingga pada akhirnya dapat mendukung peningkatan derajat kesehatan masyarakat secara keseluruhan.