JAKARTA, Baratv.id — Istiqlal Halal Center (IHC) bekerja sama dengan Lembaga Sertifikasi Profesi Kesehatan Hewan (LSP KESWAN) sukses menyelenggarakan Pelatihan dan Uji Kompetensi Juru Sembelih Halal (JULEHA). Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Istiqlal Halal Walk 2025, dan digelar di Aula Masjid Istiqlal selama tiga hari, Rabu hingga Jumat (16–18 Juli 2025).
“Kami hadir untuk menegakkan komitmen halal dan menciptakan ekosistem halal dari awal hingga akhir proses produksi. Kebutuhan daging terus bertambah, apalagi setiap tahun kita merayakan Idul Qurban. Maka, dibutuhkan juru sembelih profesional yang bersertifikat,” ujar H. Nur Hayyin Muhdlor, Lc., ME., dalam sambutan pembukanya.
Direktur IHC menegaskan bahwa Istiqlal Halal Center akan menjadi pusat kajian halal yang terbuka untuk siapa pun dan tidak bisa berjalan sendiri. Ia mengapresiasi dukungan dari LSP Keswan dalam pelaksanaan kegiatan ini.
“Kami tidak bisa menciptakan ekosistem halal sendirian. Diperlukan kolaborasi dari berbagai pihak. Terima kasih kepada LSP Keswan atas kerja samanya,” ungkapnya.
Pelatihan ini diharapkan mampu melahirkan juru sembelih halal yang profesional dan bersertifikasi resmi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) demi menjamin kualitas daging yang sehat dan halal. Tidak hanya pelatihan teknis, kegiatan ini juga menjadi bagian dari edukasi moral dan tanggung jawab spiritual.
“Juru sembelih memiliki peran strategis dalam menjamin kehalalan dan kebersihan produk hewani. Karena itu, kompetensi teknis dan pemahaman keagamaan harus berjalan beriringan,” tegas Direktur IHC.
Pelatihan ini diikuti oleh 20 peserta dari berbagai latar belakang. Selama tiga hari, peserta mendapatkan 30 jam pembelajaran, mulai dari teori sesuai dengan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) hingga praktik langsung di rumah potong hewan (RPH) tersertifikasi halal di Jakarta. Materi pelatihan meliputi aspek syariat Islam, keselamatan kerja, dan higiene sanitasi.
Kepala Asesor LSP KESWAN, drh. Shinta R. Binol, menekankan pentingnya keterampilan teknis yang disertai pemahaman kesehatan dan kesejahteraan hewan.
“Sertifikat ini bukan sekadar formalitas, tapi bentuk pengakuan bahwa juru sembelih telah memenuhi standar kompetensi. Ini penting agar kualitas daging tetap aman, sehat, utuh, dan halal,” ujarnya.
Menutup rangkaian kegiatan, Dr. H. Faried F. Saenong, MA., Ph.D., selaku Staf Khusus Menteri Agama Republik Indonesia (Stafsus Menag RI), hadir dalam Closing Ceremony. Ia memberikan motivasi kepada para peserta bahwa profesi Juru Sembelih Halal sangat dibutuhkan, bahkan secara global.
“Profesi Halal Slaughter sangat dibutuhkan di negara-negara seperti Australia. Di sana, hasil sembelihan halal diberi tanda resmi dan diawasi ketat oleh pemerintah,” jelasnya.
Menurutnya, Halal Lifestyle tidak hanya sebatas konsumsi makanan dan minuman halal, tetapi mencakup keseluruhan proses mulai dari bahan, produksi, hingga distribusi—termasuk dalam bidang fashion dan logistik. Ia mengajak seluruh peserta untuk berkomitmen menjaga syariat dalam praktik penyembelihan.
Kegiatan ini menjadi kontribusi nyata dalam mewujudkan Indonesia sebagai pusat industri halal dunia, melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia yang tersertifikasi dan profesional. Selain menjamin kualitas dan kehalalan produk hewani, pelatihan ini juga memperkuat sistem jaminan halal nasional yang terpercaya.
(Red*)






