JAKARTA, Baratv.id — Rapat dipimpin Kapolres Pelabuhan Tanjung Priok, AKBP Martuasah H. Tobing, dengan tujuan menyatukan langkah pengamanan serta memperkuat sinergi antar-stakeholder demi kelancaran perhelatan religius dan sosial tersebut.

“Kegiatan ini untuk menyamakan persepsi, meningkatkan sinergitas, serta membangun komitmen bersama demi kelancaran dan keamanan pelaksanaan haul,” ujar AKBP Martuasah.

Kolaborasi Lintas Instansi dan Deklarasi Damai

Rapat koordinasi melibatkan unsur Kepolisian, TNI, pemerintah daerah, organisasi masyarakat, dan tokoh agama dari Jakarta Utara dan Pelabuhan Tanjung Priok. Dalam kesempatan yang sama dilakukan Deklarasi Damai bersama tokoh ormas dan ulama sebagai komitmen menjaga ketertiban dan kondusivitas acara.

Strategi Pengamanan & Rekayasa Lalu Lintas

Untuk mendukung kelancaran jamaah, kepolisian menyiapkan langkah strategis berikut:

  • Penempatan personel pada titik-titik rawan dan simpul keramaian.
  • Pengaturan arus dan rekayasa lalu lintas di koridor utama menuju lokasi.
  • Koordinasi posko terpadu untuk respons cepat dan layanan informasi jamaah.
Paparan skema pengamanan Haul Mbah Priok 2025 melalui TFG.
Paparan skema pengamanan Haul Mbah Priok 2025 melalui TFG.

Fasilitas Penunjang Jamaah

Pengelola diminta memastikan ketersediaan toilet umum, area parkir, dan tempat istirahat yang memadai. Hal ini penting mengingat besarnya peningkatan kunjungan dan potensi beban terhadap infrastruktur sekitar lokasi.

“Kami berharap Haul Mbah Priok tahun ini berjalan lancar, khidmat, dan membawa berkah bagi masyarakat,” terang AKBP Martuasah.

Tradisi Luhur, Perekat Kebersamaan

Secara historis, Haul Mbah Priok selalu dihadiri ribuan orang setiap tahun. Selain mengenang jasa Mbah Priok, tradisi ini meneguhkan silaturahmi, persatuan, dan kebersamaan di tengah keragaman masyarakat. Partisipasi aktif warga dalam menjaga ketertiban serta pelaporan dini bila menemukan potensi gangguan sangat diharapkan.

Dengan persiapan matang dan kolaborasi semua pihak, peringatan Haul Mbah Priok ke-270 diharapkan tidak hanya menjadi momen ibadah dan ziarah, tetapi juga wahana memperkuat harmoni sosial dan mewariskan tradisi lokal bagi generasi mendatang.

(Sarman)