JAKARTA, Baratv.id — Satgas Pengendalian Harga Beras terus menggenjot penyaluran Beras SPHP ke wilayah Papua Raya meski menghadapi kendala geografis, keterbatasan moda angkut, dan infrastruktur gudang yang minim. Hingga 9 Desember 2025, realisasi penyaluran mencapai 2.181,5 ton atau 47,08% dari target 4.634 ton.
Hasil Pengawasan dan Kondisi Harga
Sejak terbentuk pada 18 November 2025, Satgas telah melakukan 35.105 pengawasan harga—rata-rata 731 lokasi per hari—serta mengeluarkan 920 surat teguran kepada pelaku usaha yang menjual beras di atas Harga Eceran Tertinggi (HET). Hasil pengawasan menunjukkan penurunan harga beras Medium dan Premium di Zona I dan II; namun Zona III (Papua–Maluku) masih mencatat harga di atas HET meski menunjukkan tren penurunan.
Tantangan Distribusi di Papua Raya
Brigjen Pol Ade Safri Simanjuntak, Pelaksana Satgas sekaligus Kasatgas Pangan Polri, menyebutkan beberapa hambatan utama: medan pegunungan yang sulit diakses, terbatasnya rute dan frekuensi angkutan, kapasitas bandara perintis yang kecil (muat 1,25 ton), belum adanya Gudang Bulog di 28 Kota/Kabupaten, perubahan cuaca ekstrem, dan potensi gangguan keamanan saat pendistribusian.
Langkah Mitigasi
- Mapping, audit, dan evaluasi wilayah untuk mengidentifikasi penyebab kenaikan harga;
- Koordinasi dengan Kementerian Perhubungan untuk meningkatkan Tol Laut, Jembatan Udara, dan jalur Perintis Darat;
- Penyediaan 32 Gudang Filial di 28 Kota/Kabupaten menggunakan aset Polri, Pemda, KPU, dan pinjam pakai masyarakat;
- Kesepakatan dengan Bapanas agar biaya eksploitasi beras dimasukkan dalam Harga Pembelian Beras (HPB), sehingga BULOG tidak ragu menyalurkan SPHP.
Target dan Realisasi
Target penyaluran adalah 4.634 ton untuk 42 Kota/Kabupaten selama periode November–Desember 2025, khususnya menjelang Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. Sampai 9 Desember, distribusi tercatat:
- Distribusi awal: 1.354 ton (29,22% dari target);
- Distribusi serentak 9 Desember: 827,5 ton;
- Total realisasi: 2.181,5 ton (47,08% dari target).
Moda pengiriman meliputi truk darat, pesawat perintis kargo untuk wilayah pegunungan (mis. Pegunungan Bintang, Nduga, Yahukimo, Intan Jaya), serta kapal perintis untuk daerah pesisir dan kepulauan (mis. Kaimana, Teluk Wondama, Teluk Bintuni, Mamberamo Raya, Fakfak).
Dengan serangkaian mitigasi dan dukungan pembiayaan logistik melalui HPB, Satgas berharap percepatan penyaluran SPHP ke Papua Raya dapat menekan harga menjelang akhir tahun. “Diharapkan penyaluran ini dapat membantu masyarakat Papua Raya dan menjaga stabilitas harga beras,” kata Ade Safri.
(Aris)



















