TANGERANG, Baratv.id — Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) bukan sekadar seremoni tahunan mengenang Ki Hadjar Dewantara. Hardiknas adalah momen refleksi: apakah pendidikan kita sudah membentuk manusia seutuhnya—bukan hanya cerdas akademis, tapi juga kuat karakter?

Pertanyaan ini semakin relevan di tengah maraknya kasus perundungan, kekerasan pelajar, dan kemerosotan moral generasi muda, termasuk di Kabupaten Tangerang.

Sekolah memang berusaha membentuk karakter siswa lewat kurikulum dan pembinaan. Namun, pendidikan karakter kerap hanya menjadi pelengkap, bukan inti dari pendidikan itu sendiri. Padahal, krisis nilai hari ini lebih banyak disebabkan oleh minimnya keteladanan dan arah hidup, bukan sekadar kurangnya ilmu.

Di sinilah pemuda harus hadir. Bukan hanya sebagai objek sistem pendidikan, tetapi sebagai agen perubahan. KNPI sebagai organisasi kepemudaan terbesar memiliki tanggung jawab sosial untuk ikut membentuk lingkungan pendidikan yang sehat dan inspiratif.

KNPI Kabupaten Tangerang, khususnya bidang pendidikan, melihat peluang besar untuk ikut menguatkan karakter generasi muda. Program nyata seperti mentoring pelajar, pelatihan anti-bullying, kelas kepemimpinan, hingga kegiatan ekstrakurikuler yang membangun empati dan kreativitas bisa dilakukan.

Pemuda-pemuda terbaik Tangerang bisa menjadi kakak asuh, pembimbing, bahkan sahabat bagi pelajar yang tengah mencari jati diri.

Ketua KNPI Kabupaten Tangerang, Yusup Basnar, menegaskan:

“Pemuda tidak boleh hanya menjadi penonton dari krisis nilai. Sudah waktunya kita ambil peran aktif membentuk generasi berkarakter. KNPI hadir bukan sekadar simbol organisasi, tapi motor perubahan sosial—bekerja sama dengan sekolah, guru, dan orang tua membangun pendidikan yang manusiawi dan bermartabat.”

Inovasi pendidikan tidak selalu soal teknologi tinggi. Dalam pendidikan karakter, inovasi bisa berarti kehadiran nyata pemuda sebagai teladan dan penggerak nilai kebajikan. Ini sejalan dengan semangat Ki Hadjar Dewantara yang menempatkan pendidikan sebagai proses membimbing hidup anak-anak.

Hardiknas tahun ini harus menjadi momentum memperkuat kolaborasi antara sekolah dan masyarakat, termasuk organisasi kepemudaan. Pemerintah daerah, sekolah, dan KNPI perlu membentuk kemitraan yang berkelanjutan demi menciptakan ruang pendidikan nonformal yang memperkuat karakter anak bangsa.

Pendidikan karakter bukan hanya tanggung jawab guru. Pemuda harus turun tangan—bukan hanya menuntut perubahan, tapi menjadi bagian dari solusi.

Dan dari Kabupaten Tangerang, kita bisa mulai.

(Red)