JAKARTA, Baratv.id — Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) menggelar kegiatan Refleksi Akhir Tahun 2025 dengan tema “Solusi Paradoks Energi: Mewujudkan Kedaulatan, Menyelamatkan Lingkungan”. Acara ini berlangsung di Ruang Delegasi Lantai 2 Gedung MPR RI, Jalan Gatot Subroto No.1, Senayan, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (29/12/2025).

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Wakil Ketua MPR RI Dr. Eddy Soeparno, S.H., M.H. sebagai pembicara utama. Hadir pula sejumlah narasumber nasional, di antaranya Metta Dharmasaputra selaku CEO & Co-Founder Katadata serta Maria Yuliana Benyamin selaku Pemimpin Redaksi Bisnis Indonesia, bersama para awak media.

Forum refleksi akhir tahun ini menjadi sarana edukasi publik terkait pentingnya transparansi kebijakan energi nasional, sekaligus membahas tantangan paradoks energi Indonesia yang dihadapkan pada kebutuhan pertumbuhan ekonomi dan tuntutan penyelamatan lingkungan.

Dalam pemaparannya, Eddy Soeparno menekankan pentingnya percepatan pembahasan dan pengesahan Rancangan Undang-Undang (RUU) Pengelolaan Perubahan Iklim. Menurutnya, perubahan iklim telah memberikan dampak nyata dan semakin meluas, termasuk meningkatnya frekuensi bencana alam di berbagai daerah di Indonesia.

“RUU Pengelolaan Perubahan Iklim menjadi langkah strategis untuk memperkuat pencegahan dan penanganan dampak krisis iklim yang kini semakin dirasakan oleh masyarakat Indonesia,” ujar Eddy.

Ia juga menyoroti capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tercatat sebesar 5,04 persen pada kuartal III tahun 2025. Namun demikian, Eddy menegaskan bahwa pencapaian target pertumbuhan jangka panjang membutuhkan investasi strategis yang mampu menjawab tantangan paradoks energi serta meminimalkan potensi kerugian ekonomi akibat krisis iklim.

Lebih lanjut, Eddy menjelaskan bahwa Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 telah mengarahkan investasi besar pada pengembangan energi bersih. Kebijakan tersebut diharapkan mampu memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus membuka sumber pertumbuhan ekonomi baru yang berkelanjutan.

“Transisi menuju energi bersih bukan hanya soal menjaga lingkungan, tetapi juga merupakan peluang besar untuk memperkuat kedaulatan energi dan perekonomian nasional,” pungkasnya.