JAKARTA, Baratv.id – Komisaris Dragon Law Firm, Lana Kartasasmita, bersama Ketua Forum Wartawan Jaya (FWJ) Indonesia wilayah Jakarta Barat dan Tangerang Selatan, melakukan kunjungan silaturahmi ke kediaman Asido Panjaitan atau akrab disapa Sido, drummer sekaligus salah satu pendiri grup musik legendaris Indonesia, Panbers, Senin (5/1/2026).

Kunjungan tersebut berlangsung hangat dan penuh keakraban. Acara diawali dengan silaturahmi serta makan siang bersama, diselingi perbincangan santai mengenai perjalanan panjang karier Panbers, mulai dari masa awal pembentukan hingga berbagai prestasi yang mengukuhkan nama mereka sebagai legenda musik Tanah Air.

Usai makan siang, kegiatan dilanjutkan dengan sesi latihan di studio rekaman milik Panbers. Beberapa lagu kenangan era 1970-an kembali dibawakan dengan penuh semangat. Meski telah berkiprah selama puluhan tahun, kekompakan dan harmoni antar personel Panbers tetap terjaga.

Sejarah Awal Terbentuknya Panbers

Panbers merupakan singkatan dari Panjaitan Bersaudara, grup musik legendaris Indonesia yang pertama kali dibentuk pada 1963 di Surabaya. Grup ini digawangi oleh empat saudara kandung, yakni Hans, Benny, Doan, dan Asido Panjaitan, serta Soen Ing sebagai gitaris ritme.

Pada 1965, keluarga Panjaitan pindah ke Jakarta dan Soen Ing keluar dari formasi. Selanjutnya, pada 25 Januari 1969, nama grup resmi diubah menjadi Panbers dan mulai fokus meniti karier musik secara profesional.

Melejit di Era 1970-an

Popularitas Panbers mulai meroket pada era 1970-an setelah tampil di ajang Istora Bands Jamboree dan berbagai program televisi nasional. Album debut mereka, Volume 1: Kami Cinta Perdamaian (1971), melahirkan lagu hits “Akhir Cinta”.

Kesuksesan berlanjut melalui album Sound 2 (Mengapa Begini) yang dirilis pada 1972. Album ini melahirkan sejumlah lagu populer seperti “Bebaskan”, “Musafir”, dan “Terlambat Sudah”.

Panbers juga mencatat sejarah dengan menjadi band pembuka konser musisi internasional seperti Bee Gees dan Shocking Blue. Tercatat, tujuh lagu Panbers berhasil meraih sertifikat piringan emas.

Perubahan Formasi dan Konsistensi Berkarya

Memasuki era 1990-an, Panbers mengalami perubahan formasi. Maxi Pandelaki bergabung sebagai bassist pertama yang bukan berasal dari keluarga Panjaitan. Pada 1995, Hans Panjaitan wafat dan posisinya digantikan oleh Hans Noya pada 1999.

Tahun 2000, Panbers semakin memperkaya warna musiknya dengan bergabungnya Hendri Lamiri sebagai pemain biola.

Sepanjang perjalanan kariernya, Panbers telah menciptakan lebih dari 700 lagu yang terangkum dalam puluhan album dengan berbagai genre, mulai dari pop, rock, spiritual, keroncong, hingga Melayu.

Pesan Harmoni dari Asido Panjaitan

Asido “Sido” Panjaitan menegaskan bahwa Panbers tidak hanya hadir sebagai grup musik, tetapi juga sebagai penyampai pesan kemanusiaan.

“Panbers kami bangun bukan hanya untuk mengejar mimpi bermusik, tetapi untuk menyampaikan pesan cinta, perdamaian, dan kebersamaan. Setiap irama dan ketukan drum adalah dedikasi untuk keluarga dan tanah air. Semangat Panbers akan tetap hidup dan tidak pernah pudar,” ujar Asido.

Dari Turuna Boys Menuju Legenda

Dalam kesempatan yang sama, Maxi Pandelaki mengungkap bahwa sebelum menetap di Surabaya, keluarga Panjaitan sempat tinggal di Palembang dan membentuk band anak-anak bernama Turuna Boys.

“Band bocah itu beranggotakan delapan orang dan bahkan pernah tampil di kantor gubernur. Sejak awal, Panbers memang dibentuk dengan mimpi besar,” kata Maxi.

Ia menambahkan, “Menjadi top itu mudah, tetapi menjadi legenda itu sulit karena harus abadi. Dan kini Panbers telah membuktikan diri sebagai legenda musik lawas Indonesia.”