INTERNASIONAL, Baratv.id — Ketegangan antara India dan Pakistan terus meningkat setelah kedua negara saling menuduh melakukan serangan lintas perbatasan di wilayah sengketa Kashmir. Seperti dilaporkan Al Jazeera (9/5/2025), kedua belah pihak mengklaim telah menjadi korban serangan drone dan pelanggaran gencatan senjata, memicu kekhawatiran akan potensi eskalasi antara dua negara bersenjata nuklir itu.
Ledakan terdengar di wilayah Kashmir yang dikelola India serta di kota suci umat Sikh, Amritsar, di negara bagian Punjab. Proyektil dan kilatan cahaya terlihat di langit kota Jammu, sementara ledakan juga terdengar di sekitar Bandara Srinagar. India juga melaporkan adanya serangan drone yang menargetkan kota Ferozepur di Punjab.
Sementara India menyalahkan Pakistan, juru bicara militer Pakistan, Ahmed Sharif Chaudhry, mengatakan bahwa India justru menembakkan rudal balistik yang jatuh di wilayahnya sendiri. Dua ledakan juga dilaporkan terjadi di Rawalpindi pada Sabtu dini hari.
Kedua negara saling melaporkan pelanggaran gencatan senjata dan serangan drone di sepanjang Garis Kontrol (LoC). “Pakistan meluncurkan beberapa serangan menggunakan drone dan amunisi lain di perbatasan barat India,” klaim militer India, seperti dikutip oleh Al Jazeera, meski mereka tidak merinci balasan yang dilakukan.
Sebaliknya, Islamabad membantah tuduhan itu dan menyatakan bahwa justru India yang mengirim drone ke wilayahnya, hingga menewaskan dua warga sipil. Pakistan mengklaim telah menembak jatuh 25 drone India dalam beberapa hari terakhir.
Laporan dari pejabat lokal menyebutkan bahwa tembakan artileri di dekat LoC berlangsung sangat intens, menyebabkan sedikitnya empat warga sipil tewas dan 12 lainnya luka-luka.
Menteri Informasi Pakistan, Attaullah Tarar, menyebut pernyataan militer India sebagai “tidak berdasar dan menyesatkan”, dan menegaskan bahwa Pakistan tidak meluncurkan serangan ke kota-kota India seperti Pathankot, Srinagar, atau Jaisalmer.
Di sisi lain, Sekretaris Luar Negeri India, Vikram Misri, mengecam bantahan Pakistan dan menyebutnya sebagai “pernyataan kacau”. Menurut Misri, tuduhan bahwa India menyerang wilayahnya sendiri adalah sesuatu yang “menggelikan”.
Juru bicara militer Pakistan menegaskan bahwa negaranya tidak akan menurunkan ketegangan secara sepihak. “Kami bertahan sejauh ini, tapi mereka akan menerima balasannya pada waktunya,” ujarnya, dikutip Al Jazeera.
Pengamat Asia Selatan Michael Kugelman memperingatkan bahwa penyebaran disinformasi memperparah situasi. “Disinformasi menyebar hampir secepat konflik. Keduanya berbahaya. Percayalah pada sumber yang sudah diverifikasi,” tulisnya di media sosial.
India meluncurkan “Operasi Sindoor” pada Rabu lalu sebagai respons atas serangan terhadap wisatawan di wilayah Kashmir yang mereka kuasai. India menuduh Pakistan mendukung pelaku serangan tersebut, tuduhan yang ditolak keras oleh pihak Islamabad.
Menurut laporan Al Jazeera, sejak serangan tersebut, pertukaran tembakan, aktivitas drone, dan pelanggaran wilayah udara meningkat, menyebabkan hampir 50 korban jiwa—mayoritas di pihak Pakistan.
Beberapa negara besar menyerukan penurunan tensi. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio telah menghubungi pemimpin India dan Pakistan, menyerukan de-eskalasi. Presiden Donald Trump dan Wakil Presiden JD Vance juga menyatakan bahwa Amerika tidak akan ikut campur dalam konflik ini.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran dan Kementerian Luar Negeri Tiongkok juga meminta kedua negara menunjukkan sikap menahan diri. “Kami mendesak kedua pihak untuk bertindak demi perdamaian dan stabilitas kawasan,” demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Tiongkok dikutip Al Jazeera.
(Red)



















