JAKARTA, Baratv.id  – Palang Merah Indonesia (PMI) memberangkatkan sekitar 2.500 ton bantuan kemanusiaan ke wilayah terdampak bencana di Sumatra dan Aceh. Bantuan tersebut dikirim menggunakan kapal Kalla Lines melalui Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, pada Sabtu (3/1/2026).

Hingga Jumat (2/1/2026), seluruh bantuan masih dalam proses pemuatan ke atas kapal. Pengiriman ini difokuskan untuk mendukung pemulihan dan rehabilitasi pascabencana, khususnya operasi pembersihan agar masyarakat dapat segera kembali ke rumah dan menjalani kehidupan secara normal.

Ketua Umum PMI Jusuf Kalla menegaskan bahwa pembersihan wilayah terdampak menjadi prioritas utama, terutama menjelang Bulan Ramadan.

“Masjid dan rumah warga harus segera dibersihkan agar masyarakat bisa kembali ke rumah dan memulai kehidupan yang layak dan bermartabat,” ujar Jusuf Kalla di kawasan Cilincing, Jakarta Utara.

Untuk mendukung percepatan pembersihan lumpur dan sisa material bencana, PMI mengirimkan 41 unit mini ekskavator, 200 unit jet cleaner, 20 ribu cleaning kit, serta masing-masing 20 ribu pacul dan sekop.

Selain fokus pada pemulihan fisik, PMI juga memberikan perhatian serius terhadap kebutuhan pendidikan anak-anak terdampak bencana. Bantuan pendidikan yang disalurkan meliputi 1,5 juta buku tulis, 20 ribu paket perlengkapan sekolah, serta 5 ribu tas sekolah.

“Banyak buku sekolah anak-anak rusak dan hanyut saat bencana. Karena itu, PMI memastikan mereka bisa kembali belajar seperti biasa,” kata Jusuf Kalla.

Seiring peralihan dari masa tanggap darurat menuju pemulihan awal, PMI turut menyalurkan bantuan logistik tambahan berupa 2.000 paket sembako, 1.259 dus mi instan, 812 unit kompor lengkap dengan regulator, serta 1.000 set peralatan dapur.

Operasi kemanusiaan PMI untuk penanganan bencana di Sumatra dan Aceh ini direncanakan berlangsung selama satu tahun, mencakup fase pemulihan awal, rehabilitasi, hingga rekonstruksi.

Sementara itu, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan bahwa Presiden Prabowo Subianto menekankan pentingnya penyaluran bantuan secara cepat serta penguatan gotong royong nasional dalam penanganan bencana.

Menurut Budi, bencana merupakan persoalan bersama yang harus ditangani secara kolaboratif oleh seluruh elemen bangsa. Ia menilai Indonesia memiliki modal sosial yang kuat apabila semua pihak bergerak bersama.

Dari sektor kesehatan, tercatat 87 rumah sakit terdampak bencana di tiga provinsi, dengan sembilan rumah sakit sempat tidak beroperasi sama sekali.

“Dalam waktu dua minggu, berkat dukungan semua pihak, seluruh rumah sakit tersebut sudah kembali beroperasi,” ujar Budi.

Selain rumah sakit, sebanyak 867 fasilitas kesehatan tingkat pertama turut terdampak, dengan sekitar 180 unit sempat tidak berfungsi. Saat ini, tersisa empat fasilitas kesehatan yang masih dalam proses pemulihan.