LEBAK, Baratv.id — Seorang office boy (OB) honorer berinisial EK (25) yang bekerja di Kantor Inspektorat Kabupaten Lebak mengaku menjadi korban kekerasan oleh oknum pejabat. EK menyebut dirinya ditendang dan dihina saat sedang melaksanakan tugas kebersihan.

Menurut pengakuan EK, peristiwa terjadi pada Jumat, 14 November 2025 sekitar pukul 07.00 WIB. Kejadian bermula saat EK datang ke kantor untuk membersihkan bagian dalam ruangan, lalu melanjutkan pekerjaan menyiram rumput di halaman kantor.

Tidak lama kemudian, atasannya yang disebut berinisial R datang dan melihat kondisi aula yang dianggapnya belum rapi. R memanggil EK dan melontarkan kata-kata kasar.

“Inspektur datang, lihat kondisi aula acak-acakan. Dia manggil di resepsionis terus ngomong ‘goblok dia, polongo dia’,” ujar EK.

Setelah sempat masuk ke ruangannya, R kembali menghampiri EK yang sedang menyiapkan alat semprot rumput, lalu menendang tong sampah beberapa kali dan menendang perut EK hingga terdorong.

“Balik lagi orangnya, terus menendang tong sampah dua kali, lalu nendang perut saya bagian bawah puser sampai saya terdorong,” kata EK.

EK mengaku sempat bertanya mengapa diperlakukan demikian, namun hanya dibentak dan disuruh cepat membersihkan aula. Selain tindakan fisik, EK juga menyebut mendapat hinaan yang disampaikan di hadapan pegawai lain.

“Dia mah teu pantes rapi-rapi, teu pantes make seragam. Diamah lain pagawé, cuma OB,”

Meski mengaku menjadi korban, EK memilih tidak melaporkan kejadian tersebut ke polisi karena merasa inspektur memiliki jenjang pendidikan lebih tinggi darinya.

Pihak Inspektorat: Hanya Teguran, Tidak Ada Penganiayaan

Sekretaris Inspektorat Lebak, Vidia Indera, membenarkan bahwa memang ada teguran dari Inspektur kepada seorang OB. Namun, Vidia menegaskan bahwa tidak terjadi penganiayaan.

“Saya luruskan, tidak ada penganiayaan. OB tersebut hanya ditegur,” ujar Vidia.

Vidia menambahkan bahwa persoalan telah diselesaikan secara baik melalui musyawarah. Menurutnya, Inspektur juga sempat mendatangi rumah orang tua EK untuk menyelesaikan masalah secara kekeluargaan.

“Sudah tidak ada persoalan. Semua sudah dimusyawarahkan dan diterima dengan baik,” jelas Vidia.

(Sopian Sauri)