LEBAK, Baratv.id – Suasana Ramadan di Kabupaten Lebak selalu diwarnai tradisi unik yang tetap bertahan lintas generasi. Salah satunya adalah dentuman meriam sundut yang hingga kini masih menjadi penanda waktu berbuka puasa bagi masyarakat, khususnya di pusat Kota Rangkasbitung.

Tradisi tersebut dipusatkan di halaman Masjid Agung Al-A’raaf Rangkasbitung. Menjelang waktu Magrib, warga mulai memadati kawasan masjid dan alun-alun sekitar untuk menanti dentuman meriam yang menjadi simbol datangnya waktu berbuka puasa.

Tradisi Ramadan yang Terus Dijaga Warga Lebak

Dentuman meriam sundut bukan sekadar isyarat waktu, tetapi telah menjadi bagian dari identitas Ramadan di Lebak. Tradisi ini telah berlangsung puluhan tahun dan rutin digelar setiap bulan suci Ramadan oleh Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) setempat.

Menjelang azan Magrib, petugas DKM bersiaga di lokasi meriam. Karbid dimasukkan ke dalam tabung besi besar, kemudian dicampur air untuk menghasilkan gas. Saat azan berkumandang, api disulut ke pemicu, menghasilkan dentuman keras yang menggema di langit senja.

Meriam sundut yang digunakan terbuat dari pipa besi berdiameter sekitar 40 sentimeter dengan panjang kurang lebih dua meter. Suaranya dikenal mampu terdengar hingga belasan kilometer, sehingga menjadi penanda berbuka puasa yang mudah dikenali masyarakat.

Topik Hidayat, petugas Dewan Kemakmuran Masjid (DKM), mengatakan bahwa tradisi ini hanya dilaksanakan selama Ramadan.

“Tradisi ini hanya ada saat Ramadan saja. Dentuman meriam menjadi tanda bahwa waktu berbuka puasa telah tiba,” ujar Topik Hidayat.

Ia menambahkan, meriam sundut juga dinyalakan menjelang waktu imsak sebagai pengingat bagi warga yang akan menunaikan sahur.

“Campuran karbid dan air menghasilkan gas, lalu memicu suara ledakan saat disulut api,” jelasnya.

Sementara itu, Dian Hermawan, salah seorang warga Rangkasbitung, mengaku selalu menantikan momen tahunan tersebut.

“Setiap Ramadan saya selalu menunggu dentuman meriam di Masjid Agung. Biasanya saya datang bersama keluarga ke alun-alun untuk berbuka puasa sambil menunggu suara meriam,” kata Dian Hermawan.

Hingga kini, dentuman meriam sundut tetap menjadi simbol kebersamaan dan penanda sakral berbuka puasa bagi masyarakat Lebak, sekaligus memperkuat kekayaan tradisi lokal yang masih lestari di tengah perkembangan zaman.